Tuesday, October 27, 2020

Halaqah 57 ~ Aturan-Aturan Di Antara Penduduk Madinah

 📘 Silsilah Ilmiyyah 10.3 Sirah Nabawiyyah

🔊  Halaqah 57 ~ Aturan-Aturan Di Antara Penduduk Madinah

👤 Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A.

Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Alhamdulillah washolatu wasalamu 'ala rasulillah wa 'ala alihi wa ashhabihi ajmain

Halaqah 57 ~ Aturan-Aturan Di Antara Penduduk Madinah

Nabi Shallallahu alaihi wassalam sebagai pemimpin kota Al-Madinah telah mengatur hubungan diantara penduduk Madinah. Aturan-aturan tersebut tertulis supaya masing-masing pihak mengetahui hak dan kewajibannya. Aturan-aturan tertulis tadi dikenal di dalam kitab-kitab yang lama dengan Al-Kitab atau As-Shohifah dan sebagian penulis memberi nama dengan Dustur atau Al-Qstiqoh.

Diantara yang mendatangkan teks aturan-aturan ini adalah Muhammad bin Isyhaq yang meninggal pada tahun 151 Hijriyah. Sebagian isi aturan-aturan ini ada di dalam shohih Al-Bukhari dan Muslim, Musnad Ahmad, Sunan abi Dawud, Ibnu Majah dan juga At-Tirmidzi.

Aturan-aturan tadi terbagi menjadi dua:

1. Aturan yang berkaitan dengan perdamaian dengan orang-orang yahudi dan aturan-aturan ini ditulis sebelum terjadinya perang Badr

2. Penjelasan kewajiban dan hak kaum muslimin antara Muhajirin dan Anshor dan ini dibuat setelah terjadinya perang Badr

Disebutkan di dalam sebagian riwayat bahwa aturan-aturan yang berkaitan dengan Muhajirin dan Anshor digantungkan di pedang Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam yang bernama Dzulfiqor dan pedang ini termasuk rampasan perang ketika perang Badr.

Diantara isi aturan-aturan tersebut

1. Umat Islam adalah umat yang satu

2. Orang-orang yang beriman wajib untuk melawan orang yang berbuat dholim atau dosa atau permusuhan atau kerusakan diantara orang-orang yang beriman meskipun itu adalah anak salah seorang diantara mereka

3. Seorang mu'min tidak dibunuh karena membunuh orang kafir

4. Tidak boleh seorang mu'min menolong orang kafir atas seorang mu'min

5. Ibrohim telah mengharamkan kota Mekah dan Nabi Shallallahu alaihi wassalam telah mengharamkan kota Madinah

6. Al-Madinah adalah tanah haram dari bukit air sampai tempat demikian

7. Barang siapa yang membuat sesuatu yang baru yaitu dosa atau bid'ah dan melindungi orang yang membuat perkara yang baru maka dia mendapat laknat Allah, malaikat dan seluruh manusia

8. Jaminan kaum muslimin adalah satu, orang yang paling rendah diantara mereka diterima jaminannya

9. Orang-orang yahudi yang mengikuti kita maka dia berhak ditolong tanpa didholimi dan tanpa menolong orang yang memusuhi mereka

10. Perdamaian orang-orang yang beriman itu satu, tidak boleh seseorang yang beriman melakukan perdamaian tanpa mu'min yang lain

11. Sesungguhnya setiap apa yang diperselisihkan dikembalikan kepada Allah dan Rasul-Nya

12. Orang-orang yahudi mengeluarkan hartanya bersama orang-orang yang beriman selama mereka diperangi

Itu adalah sebagian dari isi aturan-aturan tersebut

Monday, October 26, 2020

Halaqah 56 ~ Ahlus Suffah

 📘 Silsilah Ilmiyyah 10.3 Sirah Nabawiyyah

🔊  Halaqah 56 ~ Ahlus Suffah

👤 Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A.

Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Alhamdulillah washolatu wasalamu 'ala rasulillah wa 'ala alihi wa ashhabihi ajmain

Halaqah 56 ~ Ahlus Suffah

Ahlu Suffah adalah sekelompok orang-orang yang fakir dari kalangan Muhajirin di jaman Nabi Shallallahu alaihi wassalam yang mereka tidak memiliki tempat tinggal sehingga Nabi Shallallahu alaihi wassalam menempatkan mereka di bagian belakang masjid nabawi. Pembuka mereka adalah Abu Hurairah. Dahulu Nabi Shallallahu alaihi wassalam apabila ingin mengundang Ahlu Suffah beliau memanggil Abu Hurairah. Selain orang-orang Muhajirin ada sebagian kecil orang-orang Anshar yang tinggal bersama mereka karena ingin hidup juhud meskipun dia memiliki rumah di Madinah seperti Ka'ab bin Malik Al Anshori, Hanzolah bin Abi Amir Al Anshori dan Haristah bin An Nu'man Al Anshari. 

Jumlah Ahlu Suffah kurang lebih 70 orang, terkadang bertambah dan terkadang berkurang. Diantara nama-nama mereka:

1. Abu Dzar

2. Wasilah bin Al Asqo

3. Salman Al Farizi

4. Huzaifah bin Al Yaman

5. Khabab bin Al Alard

6. Zaid Ibnul Khatab

7. Abdullah bin Mas'ud

8. Safinah, budak Nabi Shallallahu alaihi wassalam

9. Bilal bin Rabah

10. Suhaib Ar Rumi

11. Al Irbath ibnu Sariah

Dan lain-lain

Mereka mengkhususkan diri mereka untuk menuntut ilmu, beribadah kepada Allah dan berjihad. Dalam waktu-waktu senggang mereka, mereka gunakan untuk shalat, beri'tikaf, membaca Al-Quran, mempelajari ayat-ayat Allah, berdzikir, dan sebagian mereka menggunakan waktunya untuk belajar menulis. Sehingga sebagian mereka dikenal dengan ilmu dan hafalan haditsnya, seperti Abu Hurairah dan sebagian dikenal mengetahui hadits-hadits tentang fitnah seperti Hudzaifah ibnu Yaman, dan sebagian mereka dikenal dengan kedalaman ilmunya di dalam Al-Quran seperti Abdullah bin Mas'ud.

Meskipun mereka adalah ahli ilmu dan ibadah namun mereka tidak ketinggalan ikut serta di dalam kegiatan masyarakat dan berjihad di jalan Allah. Ada diantara mereka yang meninggal ketika perang Badr seperti Sofyan bin Baidho, ada yang meninggal ketika perang Uhud seperti Hanzolah, ada yang meninggal ketika perang Al-Yamamah seperti Zaid Ibnu Khatab dan lain-lain.

Ahlu Suffah memiliki pakaian yang sederhana, terkadang pakaian mereka tidak bisa menjaga mereka dari dingin dan tidak menutupi tubuh mereka secara sempurna. Makanan mereka kebanyakan adalah kurma. Dahulu Nabi Shallallahu alaihi wassalam sering mengundang mereka dan beliau memohon maaf kepada mereka jika makanan yang dihidangkan tidak enak. Sering mereka menahan lapar, terkadang sebagian mereka pingsan ketika shalat. Dan dahulu Nabi Shallallahu alaihi wassalam dan para sahabatnya sangat memperhatikan Ahlu Suffah. Beliau Shallallahu alaihi wassalam sering menjiarahi mereka, mengunjungi orang yang sakit diantara mereka, duduk bersama mereka, menasehati mereka supaya banyak membaca Al-Quran dan dzikrullah. Demikianlah keadaan para Ahlu Suffah, kemiskinan mereka dan kefakiran mereka tidak menghalangi mereka untuk menuntut ilmu, beribadah dan berjihad di jalan Allah.


Friday, October 23, 2020

Halaqah 55 ~ Saling Menyaudarakan

 📘 Silsilah Ilmiyyah 10.3 Sirah Nabawiyyah

🔊  Halaqah 55 ~ Saling Menyaudarakan

👤 Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A.

Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Alhamdulillah washolatu wasalamu 'ala rasulillah wa 'ala alihi wa ashhabihi ajmain

Halaqah 55 ~ Saling Menyaudarakan

Di dalam Islam semua orang yang beriman adalah bersaudara sebagaimana di dalam ayat yang ke 10 dari surat Al hujurat. Bersaudara yang diantara konsekuensinya adalah saling tolong menolong. Ada yang mengatakan bahwa berdasarkan beberapa riwayat, dahulu nabi Shallallahu alaihi wassalam mempersaudarakan antara kaum muslimin di kota Mekah sebelum hijrahnya mereka ke kota Madinah. Beliau mempersaudarakan antara Hamzah dan Zaed bin Haristah, antara Abu Bakar dan Umar, antara Ustman bin Affan dan Abdurahman bin Auf, antara Zubair ibnul Awam dan Abdullah Ibnu Masud dan lain-lain.

Seandainya riwayat ini adalah riwayat yang benar maka persudaraan disini hanyalah terbatas saling membantu tidak sampai saling mewarisi. Adapun di kota Madinah, maka Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam telah mempersaudarakan orang-orang Muhajirin dan Anshar karena kaum Muhajirin ketika mereka berhijrah ke Madinah menghadapi banyak persoalan baik ekonomi, kesehatan maupun sosial. Mereka meninggalkan keluarga dan harta mereka dan keahlian mereka adalah berdagang bukan bertani atau keterampilan yang merupakan mata pencaharian sebagian besar penduduk Madinah. Sementara kalau mereka mau berdagang mereka tidak memiliki modal. Ditambah banyak diantara mereka yang tertimpa demam kota Madinah namun para Anshar radiallahu anhum tidak pelit bahkan mereka berkorban untuk sudara mereka dari Muhajirin dan mendahulukan mereka meskipun mereka sendiri butuh. 

Nabi Shallallahu alaihi wassalam meminta orang-orang Anshar untuk membagi hasil kebun kurma mereka dan tetap meminta mereka untuk mengelola kebun kurma mereka karena mereka lebih berpengalaman. Sedangkan kaum Muhajirin maka lebih disiapkan oleh nabi Shallallahu alaihi wassalam untuk berdakwah dan berjihad. Ada yang mengatakan bahwa syareat persaudaraan ini terjadi 5 bulan setelah hijrah. Disaudarakan antara seorang Muhajirin dan seorang Anshar dan saat itu yang disaudarakan adalah 45 orang dari kalangan Muhajirin dan 45 orang dari kalangan Anshar. Syareat persaudaraan ini mengharuskan saling tolong menolong diantara mereka dalam segala perkara, saling menasehati, saling menjiarahi, saling mencintai satu dengan yang lain, bahkan saling mewarisi satu dengan yang lain.

Ketika kaum Muhajirin sudah terbiasa dengan cuaca Madinah dan mereka mulai tahu pintu-pintu rejeki dan mereka sudah mendapatkan rampasan perang di perang Badr maka dihapuskanlah saling mewarisi antara seorang Muhajir dan seorang Anshar. Allah subhanahu wata'ala berfirman:

....

"Dan keluarga sebagian mereka lebih dekat kepada sebagian yang lain di dalam kitabullah" (Al Anfal : 75)

Adapun kewajiban saling tolong menolong diantara mereka maka terus ada

Thursday, October 22, 2020

Halaqah 54 ~ Pengaruh Islam Terhadap Tatanan Masyarakat Kota Madinah

📘 Silsilah Ilmiyyah 10.3 Sirah Nabawiyyah

🔊  Halaqah 54 ~ Pengaruh Islam Terhadap Tatanan Masyarakat Kota Madinah

👤 Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A.

Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Alhamdulillah washolatu wasalamu 'ala rasulillah wa 'ala alihi wa ashhabihi ajmain

Halaqah 54 ~ Pengaruh Islam Terhadap Tatanan Masyarakat Kota Madinah

Orang-orang yahudi terus mengobarkan api peperangan antara Aus dan Kahdraj, puncaknya adalah di perang Buast yang terjadi 5 tahun sebelum hijrahnya nabi Shallallahu alaihi wassalam, dimana Aus saat itu bisa mengalahkan Khadraj padahal sebelumnya Khadraj lah yang sering mengalahkan Aus sehingga pada akhirnya Aus bersekutu dengan bani Nadhir dan bani Quraidah kemudian mengalahkan Khadraj di perang Buast.

Setelah itu, sadarlah orang-orang Aus dan Khadraj bahwa peperangan mereka selama ini menguntungkan orang-orang yahudi dalam usaha mereka menguasai kota Madinah. Oleh karena itu mereka pun berusaha untuk berdamai bahkan mereka bersepakat untuk mengangkat Abdullah bin Ubay bin Salul seorang pembesar Khadraj untuk menjadi raja Yastrib. Ini menunjukkan bagaimana Aus dan Kahdraj mereka masih menjaga kekuatannya setelah perang Buast.

Peperangan yang berkepanjangan antara dua suku ini melahirkan keinginan yang kuat untuk berdamai dan hidup tenang, dan hal ini bersamaan waktunya dengan masuknya Isalm ke kota Madinah yang mengajak kepada persaudaraan dan perdamaian. Ketika Aus dan Kahdraj masuk Islam dan berdatangan orang-orang Muhajirin maka hal ini sangat mempengaruhi tatanan kota Madinah yang sebelumnya persatuan berdasarkan kabilah sekarang menjadi persatuan yang berdasarkan aqidah. 

Penduduk Madinah yang sebelumnya terdiri dari orang-orang yahudi dan orang-orang musyrikin sekarang terjadi menjadi tiga 

1. orang-orang yang beriman, terdiri dari sebagian besar orang Aus dan Khadraj yang masuk Islam, orang-orang Quraisy yang berhijrah dan beberapa orang dari kabilah-kabilah arab yang berhijrah.

2. orang-orang yahudi yang terdiri dari tiga suku

3. orang-orang munafiqin yang mereka adalah sebagian kecil dari orang-orang Aus dan Khadraj yang dahulunya mareka adalah musyrikin kemudian menampakkan keislaman dan menyembunyikan kekafiran mereka

Wednesday, October 21, 2020

Halaqah 53 ~ Masyarakat Madinah Sebelum Hijrah

 📘 Silsilah Ilmiyyah 10.3 Sirah Nabawiyyah

🔊  Halaqah 53 ~ Masyarakat Madinah Sebelum Hijrah

👤 Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A.

Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Alhamdulillah washolatu wasalamu 'ala rasulillah wa 'ala alihi wa ashhabihi ajmain

Halaqah 53 ~ Masyarakat Madinah Sebelum Hijrah

Yastrib adalah nama lama dari kota Madinah. Daerah yang subur dan banyak air, dikelilingi oleh Al harah dari empat arah mata angin. Al Harah adalah daerah yang berbatu hitam seperti terbakar. Al Harah di sebelah barat Madinah dinamakan Al Waghirah dan Al Harah di sebelah timur dinamakan Waqim. Gunung uhud di sebelah utara kota Madinah dan di sebelah barat dayanya Bukit Air. 

Yastrib ini adalah kota lama, diantara yang sudah lama tinggal di sana adalah orang-orang yahudi dan orang-orang arab dari suku Aus dan Khadraj. Adapun orang-orang yahudi maka mereka mulai berdatangan sejak abad pertama dan kedua masehi. Mereka meninggalkan Syam melarikan diri dari kekejaman orang-orang Romawi kemudian mereka membuat perkampungan di kota Madinah dan sekitarnya. Di sana ada tiga kabilah yahudi di kota Madinah.

1. Bani Nadhir 

2. Bani Quraidah

Dua kabilah ini tinggal di Harah Waqim yang merupakan daerah yang paling subur di kota Madinah

3. Bani Qionuqo

Jumlah pasukan perang tiga kabilah ini kurang lebi 2000 orang dan mereka orang-orang yahudi menguasai kota Madinah baik secara politik, ekonomi maupun pemikiran.

Adapun orang-orang Arab yang datang ke kota Madinah setelah orang-orang yahudi yaitu suku Aus dan Khadraj maka mereka terpaksa menempati tempat yang lain yang tidak ditinggali oleh orang yahudi dimana tempat tersebut adalah tempat yang kurang subur.

Orang-orang Aus dan Khadraj menisbahkan diri mereka ke suku Al Azd dari Yaman yang meninggalkan negeri Yaman semenjak kurang lebih tahun 207 Masehi. Ada yang mengatakan bahwa mereka hijrah dari Yaman karena runtuhnya bendungan Ma'rib dan terjadinya banjir besar. Suku Aus tinggal di samping bani Quraidah dan bani Nadhir di daerah Awali, daerah yang agak tinggi di kota Madinah. Dan Khadraj tinggal di samping bani Qoinuqo di sebuah daerah yang rendah di kota Madinah. Tempat tinggal Aus lebih subur daripada tempat tinggal Khadraj. Jumlah pasukan Aus dan Kahdraj semuanya kurang lebih 4000 orang. Karena jumlah yang banyak inilah orang-orang yahudi yang sudah tinggal sebelumnya di kota Madinah khawatir akan dikuasai oleh orang-orang Arab tersebut, maka mereka berusaha menyulut permusuhan dan peperangan diantara orang-orang Aus dan Kahdraj.

Tuesday, October 20, 2020

Halaqah 52 ~ Tinggalnya Rasūlullāh shallallāhu ’alayhi wa sallam Di Rumah Abu Ayyub AlAnshari Radhiyallāhu ’anhu

 📘 Silsilah Ilmiyyah 10.3 Sirah Nabawiyyah

🔊  Halaqah 52 ~ Tinggalnya Rasūlullāh shallallāhu ’alayhi wa sallam Di Rumah Abu Ayyub AlAnshari Radhiyallāhu ’anhu

👤 Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A.

Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Alhamdulillah washolatu wasalamu 'ala rasulillah wa 'ala alihi wa ashhabihi ajmain

Halaqah 52 ~ Tinggalnya Rasūlullāh shallallāhu ’alayhi wa sallam Di Rumah Abu Ayyub AlAnshari Radhiyallāhu ’anhu

Setelah masuk kota Madinah, beliau Shallallahu alaihi wassalam berjalan menaiki ontanya setiap kali melewati rumah seorang pembesar Anshar maka pembesar tersebut meminta kepada nabi Shallallahu alaihi wassalam untuk bertamu di rumahnya. Maka beliau Shallallahu alaihi wassalam berkata "biarkan onta ini berjalan karena dia diperintahkan". Ternyata onta tadi menderum di depan rumah Abu Ayub AL Anshari, maka tinggalah beliau di rumah Abu Ayub Al Anshari dan di dalam riawayat Ibnu Saad dalam kita beliau At Tobaqot disebutkan bahwa Nabi Shallallahu alaihi wassalm tinggal di sana selama 7 bulan.

Dan rumah Abu Ayub ada dua tingkat. Abu Ayub meminta kepada Nabi Shallallahu alaihi wassalam supaya berkenan tinggal di atas karena Abu Ayub dan Ummu Ayub tidak nyaman berada di atas nabi Shallallahu alaihi wassalam. Namun beliau Shallallahu alaihi wassalam menolak dan mengatakan bahwa di bawah lebih nyaman bagi beliau dan bagi yang bertamu kepada beliau.

Orang-orang Anshar sangat mencintai orang-orang Muhajirin. Mereka memberikan kepada kaum muhajirin harta dan tempat tinggal dan mendahulukan kepentingan muhajirin daripada kepentingan mereka sendiri. Allah subhanahu wata'ala berfirman:

...

"Dan orang-orang yang tinggal di Madinah dan mereka sudah beriman sebelumnya, mereka mencintai orang-orang yang hijrah kepada mereka dan tidak menemukan di dalam jiwa mereka rasa hasad terhadap apa yang diberikan kepada orang-orang muhajirin dan mereka mendahulukan orang-orang muhajirin di atas diri-diri mereka sendiri meskipun mereka dalam keadaan butuh dan barang siapa yang dijaga dari kebakhilan dirinya sendiri maka merekalah orang-orang yang beruntung" (Q.S. Al-Hasr : 9)

Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam di dalam shahih Al-Bukhari beliau memuji orang-orang Anshar dan mengatakan:

...

"Kalau bukan karena hijrah nisacaya aku adalah termasuk orang-orang Anshar"

Hijrah adalah suatu ujian tersendiri bagi kaum Muhajirin. Mereka berpindah ke kota Madinah sebuah daerah yang baru yang berbeda iklim dan cuacanya dari kota Mekah. Madinah adalah daerah perkebunan kurma, kelembaban kota Madinah lebih tinggi daripada kota Mekah. Sebagian Muhajirin ketika mereka berhijrah ditimpa oleh demam diantaranya adalah Abu Bakar dan Bilal.

Nabi Shallallahu alaihi wassalam bersabda:

"Ya Allah jadikanlah kecintaan kami kepada Madinah sama dengan kecintaan kami kepada kota Mekah atau lebih, dan jadikanlah dia sehat, dan berkahilah untuk kami di dalam sho dan mud nya dan pinahkanlah demamnya ke Al-Juhfah" (H.R. Al-Bukhari)

Selain itu, tempat tinggal yang seadanya, makanan yang seadanya, meninggalkan harta dan keluarga yang mereka cintai di Mekah ini adalah ujian tersendiri bagi mereka. Namun para Muhajirin berusaha mengalahkan itu semua untuk menyelamatkan aqidah dan agama mereka.

Monday, October 19, 2020

Halaqah 51 ~ Sampai Ke Kota Madinah

 📘 Silsilah Ilmiyyah 10.3 Sirah Nabawiyyah

🔊  Halaqah 51 ~ Sampai Ke Kota Madinah

👤 Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A.

Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Alhamdulillah washolatu wasalamu 'ala rasulillah wa 'ala alihi wa ashhabihi ajmain

Halaqah 51 ~ Sampai Ke Kota Madinah

Setelah melewati perjalanan yang panjang dan menegangkan maka pada tanggal 12 Rabiul Awal hari senin menjelang siang sampailah nabi dan Abu Bakar di Quba sebuah daerah 5 km di sebelah selatan kota Madinah. Tinggal di daerah ini bani Amr bin Auf. Di dalam soheh Al Bukhari disebutkan bahwa beliau Shallallahu alaihi wassalam tinggal di Quba selama 14 hari dan membangun di sana pondasi masjid Quba. 

Ketika beliau berazam dan berkehandak untuk memasuki kota madinah maka beliau mengirim utusan ke bani An Nazar. Dan kaum muslimin di kota Madinah sebelumnya telah mendengar keluarnya nabi Shallallahu alaihi wassalam dari Mekah. Setiap pagi mereka menunggu nabi Shallallahu alaihi wassalam di pinggiran kota Madinah dan apabila telah terasa panasnya matahari maka merekapun pulang ke rumahnya, demikianlah setiap hari.

Sehingga ketika di hari Nabi Shallallahu alaihi wassalam datang, merek manunggu sampai pertengahan hari kemudian pulang. Datanglah Nabi Shallallahu alaihi wassalam sementara mereka sudah masuk ke dalam rumah-rumah mereka. Seorang yahudi melihat nabi kemudian diapun memanggil kaum muslimin, keluarlah mereka dan menyambut nabi Shallallahu alaihi wassalam dan bergembira dengan kegembiraan yang luar biasa. 

Telah menyambut beliau saat itu 500 orang Anshar. Mereka mengelilingi nabi dan Abu Bakar, kemudian berjalanlah mereka semuanya memasuki kota Madinah. Mereka berkata, datang nabiullah, datang naibullah sebagaimana disebutkan di dalam shoheh Al-Bukhari laki-laki dan juga wanita mereka naik ke atas rumah-rumah mereka untuk melihat rasulullah Shallallahu alaihi wassalam orang yang sangat mereka tunggu. Anak-anak kecil berpencar di jalan seraya mengatakan ya Muhammad, ya rasulullah, ya Muhammad ya rasulullah sebagaimana disebutkan di dalam shoheh muslim.

Berkata Al-Bara ibnu Azib "Aku tidak melihat penduduk Madinah bergembira, lebih dari kegembiraan mereka dengan kedatangan rasulullah Shallallahu alaihi wassalam" sebagaimana hal ini disebutkan di dalam Shoheh Al-Bukhari.

Adapun riwayat yang menyebutkan bahwa mereka menyambut nabi Shallallahu alaihi wassalam dengan Tolaal Badru Alaina, maka tidak ada di sana riwayat yang shoheh.