Friday, January 31, 2020

Halaqah 20 ~ Amalan Hamba Ikhtiariyah Menurut Ahlus Sunnah

📘 Silsilah Ilmiyyah Si.9 Beriman Kepada Takdir Allāh
🔊  Halaqah 20 ~ Amalan Hamba Ikhtiariyah Menurut Ahlus Sunnah
👤 Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A.

Assalamu álaikum warahmatullahi wabarakatuh
Alhamdulillah washolatu wasalamu ála rosulillah wa ála alihi wasohbihi ajmaín

Halaqah yang ke-20 dari silsilah ílmiah beriman dengan takdir Allah adalah tentang Amalan Hamba Ikhtiariyah Menurut Ahlus Sunnah

Amalan hamba terbagi menjadi dua : Ikhtiyaariyyah dan Idhthiraariyyah

  1. Amalan hamba idhthiraariyyah yaitu amalan hamba yang seorang hamba tidak bisa memilih seperti gerakan orang yang menggigil. 
  2. Amalan hamba ikhtiyariyyah yaitu amalan hamba yang seseorang bisa memilih seperti amalan-amalan ketaatan dan amalan-amalan kemaksiatan 

Ahlusunnah wal jamaah meyakini bahwa Allah yang menciptakan amalan mereka bukan mereka yang menciptakan sendiri amalan-amalan tersebut, sebagaimana keyakinan orang-orang qodariyah.

Allah subhanahu wataála berfirman:

وَاللَّهُ خَلَقَكُمْ وَمَا تَعْمَلُونَ

"Dan Allah dialah yang menciptakan kalian dan apa yang kalian kerjakan" (Q.S. Ash Shofat : 96)

Dan Rosulullah salallahu álaihi wasalam bersabda:

"Sesungguhnya Allah yang menciptakan setiap pelaku dan apa yang dia lakukan" (H.R. Al Hakim shohih di dalam Al Mustadrok)

Dan Ahlusunnah meyakini bahwa para hamba merekalah pelaku dari apa yang mereka amalkan, Allah yang menciptakan keimanan dan kekafiran dan seorang hamba dialah yang beriman dan dialah yang kafir. Allah menciptakan ketaatan dan kemaksiatan dan hamba dialah yang taat dan dialah yang bermaksiat. Allah menciptakan shalat dan puasa dan hambalah yang melakukan shalat dan dialah yang melakukan puasa. Bukan Allah subhanahu wataála yang menjadi pelaku itu semua, sebagaimana diyakini oleh orang-orang Al-Jabriyah.

Allah berfirman:

فَلَا تَعْلَمُ نَفْسٌ مَا أُخْفِيَ لَهُمْ مِنْ قُرَّةِ أَعْيُنٍ جَزَاءً بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

"Maka sebuah jiwa tidak mengetahui apa yang disembunyikan untuk mereka berupa hal-hal yang menyejukan mata mereka sebagai balasan atas apa yang mereka amalkan" (Q.S. As Sajdah : 17)

Di dalam ayat ini, Allah mengabarkan bahwa amal yang dilakukan para hamba adalah sebab mereka mendapatkan kenikmatan di sorga. Menunjukkan bahwa pelaku amalan tersebut adalah hamba bukan Allah. Allah subhanahu wataála memberikan para hamba kudroh atau kemampuan sebagaimana firman Allah:

لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا

"Allah tidak membebani sebuah jiwa kecuali sesuai dengan kemampuannya" (Q.S. Al Baqoroh : 286)

Dan Allah juga memberikan mereka irodah atau keinginan, Allah lah yang menciptakan irodah pada diri mereka dan irodah mereka di bawah irodah Allah subhanahu wataála. Allah berfirman:

لِمَنْ شَاءَ مِنْكُمْ أَنْ يَسْتَقِيمَ
وَمَا تَشَاءُونَ إِلَّا أَنْ يَشَاءَ اللَّهُ رَبُّ الْعَالَمِينَ

"Bagi siapa diantara kalian yang ingin istiqomah dan tidaklah kalian menghendaki istiqomah kecuali dengan kehendak Allah Rab semesta alam" (Q.S. At Takwir : 28 -29)

Ini semua menunjukkan tentang batilnya ucapan Al Jabriyah bahwa hamba dipaksa melakukan ketaatan atau kemaksiatan tidak ada pilihan bagi mereka mereka tidak memiliki kudroh dan irodah keadaan mereka seperti gerakan pohon yang tertiup angin mengikuti kemana arah angin tersebut

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqoh kali ini dan sampai bertemu kembali pada halaqah selanjutnya

Wasslamau álaikum warahmatullahi wabarakatuh

Thursday, January 30, 2020

Halaqah 19 ~ Makna Ucapan Rasūlullāh shallallāhu ’alayhi wa sallam "Kejelekan Tidak Kepadamu"

📘 Silsilah Ilmiyyah Si.9 Beriman Kepada Takdir Allāh
🔊  Halaqah 19 ~ Makna Ucapan Rasūlullāh shallallāhu ’alayhi wa sallam "Kejelekan Tidak Kepadamu"
👤 Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A.

Assalamu álaikum warahmatullahi wabarakatuh
Alhamdulillah washolatu wasalamu ála rosulillah wa ála alihi wasohbihi ajmaín

Halaqah yang ke-19 dari silsilah ílmiah beriman dengan takdir Allah adalah tentang Makna Ucapan Rasūlullāh shallallāhu ’alayhi wa sallam "Kejelekan Tidak Kepadamu"

Allah subhanahu wataála yang menciptakan segala sesuatu yang bermanfaat maupun yang memudhoroti, yang baik maupun yang buruk. Adapun sabda nabi sallahu álaihi wasalam di dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim:

والشر ليس إليك


"Dan kejelekan tidak disandarkan kepadamu"

Maka hadits ini tidak menunjukkan bahwa kejelekan tidak dicipta oleh Allah. Para ulama telah menjelaskan bahwa makna hadits ini.

1. Ini adalah bentuk adab kita kepada Allah ajawajal. Tidak boleh kita berkata : wahai yang menciptakan kejelekan atau mengatakan wahai pencipta babi meskipun Allah subhanahu wataála Dialah yang menciptakan itu semua

2. Allah subhanahu wataála tidak menciptakan kejelekan secara murni kejelekan. Kejelekan yang Allah ciptakan pasti ada hikmahnya. Dilihat dari sisi hikmah inilah kejelekan yang menimpa tersebut adalah baik di pandangan Allah ajawajal. Maka tidak boleh disandarkan kejelekan kepada Allah ajawajal.

Misalnya Allah mentakdirkan rejeki. Ada diantara manusia yang diluaskan rezekinya dan ada yang disempitkan. Disempitkan dengan hikmah dan diluaskan dengan hikmah. Dan diantara hikmah disempitkan rezeki seseorang adalah supaya dia tidak belebihan di dunia supaya dia banyak berdoa dan mendekatkan diri kepada Allah. Dan diantara hikmahnya supaya terjadi saling membutuhkan antara orang yang kaya dan orang yang miskin.

3. Ada diantara ulama yang mengatakan bahwa makna ucapan nabi salallahu álaihi wasalam kejelekan tidak disandarkan kepadamu maksudnya tidak boleh bertaqorub kepada Allah dengan kejelekan

4. Ada diantara ulama yang mengatakan bahwa maknanya kejelekan tidak akan sampai kepada Allah tetapi kebaikan itulah yang akan sampai kepada Allah.

Penyandaran kejelekan di dalam dalil tidak dilakukan secara khusus kepada Allah tetapi terkadang dengan penyandaran umum seperti firman Allah ajawajal:

اللَّهُ خَالِقُ كُلِّ شَيْءٍ

"Allah yang menciptakan segala sesuatu" (Q.S. Az Zumar : 62)

Dan terkadang disandarkan kejelekan tersebut kepada penyebabnya sebagaimana firman Allah

مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَ

"Dari kejelekan apa yang dia ciptakan" (Q.S. Al Falaq : 2)

Dan terkadang Allah subhanahu wataála menggunakan kalimat yang pasif sebagaimana firman Allah

وَأَنَّا لَا نَدْرِي أَشَرٌّ أُرِيدَ بِمَنْ فِي الْأَرْضِ أَمْ أَرَادَ بِهِمْ رَبُّهُمْ رَشَدًا

"Dan sesungguhnya kami (yaitu bangsa jin) tidak mengetahui apakah kejelekan yang diinginkan terhadap penduduk bumi ataukah Rab mereka menginginkan bagi penduduk bumi kebaikan" (Q.S. Al Jin : 10)

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqoh kali ini dan sampai bertemu kembali pada halaqah selanjutnya

Wasslamau álaikum warahmatullahi wabarakatuh

Wednesday, January 29, 2020

Halaqah 18 ~ Kapan Seseorang Boleh Beralasan Dengan Takdir

📘 Silsilah Ilmiyyah Si.9 Beriman Kepada Takdir Allāh
🔊  Halaqah 18 ~ Kapan Seseorang Boleh Beralasan Dengan Takdir
👤 Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A.

Assalamu álaikum warahmatullahi wabarakatuh
Alhamdulillah washolatu wasalamu ála rosulillah wa ála alihi wasohbihi ajmaín

Halaqah yang ke-18 dari silsilah ílmiah beriman dengan takdir Allah adalah tentang Kapan Seseorang Boleh Beralasan Dengan Takdir

Takdir dijadikan hujah dan alasan di dalam musibah dan bencana dan tidak boleh dijadikan hujah dan alasan di dalam dosa dan kemaksiatan. Ketika musibah seseorang mengatakan : ini adalah takdir Allah, ini adalah dengan izin Allah atau mengatakan apa yang Allah kehendaki pasti terjadi. Maka hal ini akan membawa ketenangan dan kebaikan pada dirinya.

Allah subhanahu wataála berfirman:

مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيبَةٍ إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ ۗ وَمَنْ يُؤْمِنْ بِاللَّهِ يَهْدِ قَلْبَهُ ۚ وَاللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ

"Tidaklah menimpa sebuah musibah kecuali dengan izin Allah dan barangsiapa yang beriman kepada Allah maka Allah akan memberikan petunjuk kepada dirinya dan Allah maha mengetahui segala sesuatu" (Q.S. At Taghabun : 11)

Dan Nabi salallahu álaihi wasalam bersabda

"Dan apabila engkau tertimpa musibah maka janganlah engkau mengatakan seandainya aku melakukan demikian niscaya akan demikian dan demikian akan tetapi ucapkanlah ini adalah takdir Allah, dan apa yang Allah kehendaki akan Dia lakukan karena sesungguhnya ucapan seandainya ini membuka amalan syaitan" (H.R. Muslim)

Namun ketika berbuat maksiat dan dinasehati maka tidak boleh seseorang berhujah dengan takdir atas maksiat yang dia lakukan kemudian dia mengatakan saya berbuat maksiat karena takdir Allah atau mengatakan kalau Allah menghendaki niscaya saya tidak berbuat maksiat dan lain-lain.

Orang-orang musyrikin ketika dahulu didakwahi oleh para nabi untuk bertauhid mereka menolak dan mereka berhujah dengan takdir atas kesyirikan dan kemaksyiatan yang mereka lakukan.

Allah subhanahu wataála berfirman:

وَقَالَ الَّذِينَ أَشْرَكُوا لَوْ شَاءَ اللَّهُ مَا عَبَدْنَا مِنْ دُونِهِ مِنْ شَيْءٍ نَحْنُ وَلَا آبَاؤُنَا وَلَا حَرَّمْنَا مِنْ دُونِهِ مِنْ شَيْءٍ ۚ كَذَٰلِكَ فَعَلَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ ۚ فَهَلْ عَلَى الرُّسُلِ إِلَّا الْبَلَاغُ الْمُبِينُ

"Dan berkata orang-orang musyrikin seandainya Allah menghendaki niscaya kami tidak menyembah selain Allah sedikitpun kami dan bapak-bapak kami dan niscaya kami tidak mengharamkan sedikitpun, demikianlah orang-orang sebelum mereka melakukan maka tidak ada kewajiban atas rosul kecuali menyampaikan dengan jelas" (Q.S. An Nahl : 35)

Adapun ucapan nabi Adam álaihisalam yang disebutkan di dalam hadits

"Adam dan Musa saling berhujah maka berkata Musa : engkau adalah Adam yang dosamu telah mengeluarkanmu dari Surga. Berkata Adam : engkau adalah Musa yang Allah telah memilihmu sebagai seorang Rosul dan memilihmu sebagai manusia yang pernah diajak bicara oleh Allah kemudian engkau mencelaku atas sebuah perkara yang telah ditakdirkan untukku sebelum aku diciptakan. Maka Rosulullah salallahu álaihi wasalam bersabda : Adam telah mengalahkan Musa dalam berhujah. Beliau salallahu álaihi wasalam mengucapkannya dua kali" (H.R. Al-Bukhari dan Muslim)

Maka perlu diketahui bahwa nabi Adam álaihisalam di dalam hadits ini tidak berhujah dengan takdir atas dosa yang beliau lakukan akan tetapi beliau berhujah dengan takdir atas musibah yang menimpa beliau dan keturunan beliau, yaitu musibah kelauarnya beliau dari surga yang efeknya juga dirasakan oleh keturunan beliau álaihisalam

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqoh kali ini dan sampai bertemu kembali pada halaqah selanjutnya

Wasslamau álaikum warahmatullahi wabarakatuh

Tuesday, January 28, 2020

Halaqah 17 ~ Peran Doa Di Dalam Beriman Kepada Dengan Takdir Allāh

📘 Silsilah Ilmiyyah Si.9 Beriman Kepada Takdir Allāh
🔊  Halaqah 17 ~ Peran Doa Di Dalam Beriman Kepada Dengan Takdir Allāh
👤 Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A.

Assalamu álaikum warahmatullahi wabarakatuh
Alhamdulillah washolatu wasalamu ála rosulillah wa ála alihi wasohbihi ajmaín

Halaqah yang ke-17 dari silsilah ílmiah beriman dengan takdir Allah adalah tentang Peran Doa Di Dalam Beriman Kepada Dengan Takdir Allāh

Takdir telah tertulis, akan tetapi bukan berarti seseorang meninggalkan berdoa kepada Allah. Berdoa adalah bagian dari mengambil sebab yang diperintahkan untuk mendapatkan kebaikan dunia maupun kebaikan akherat. Allah subhanahu wataála berfirman:

وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ ۚ

"Dan berkata Rab kalian : hendaklah kalian berdoa kepadaKu niscaya Aku akan mengabulkan untuk kalian" (Q.S. Ghofir : 60)

Dan Allah subhanahu wataála berfirman:

وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ ۖ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ

"Dan apabila hamba-hambaKu bertanya kepadamu tentang diriku maka sesungguhnya aku adalah dekat, mengabulkan doanya orang yang berdoa kepadaKu" (Q.S. Al-Baqoroh : 186)

Dan doa adalah ibadah sebagaimana sabda nabi salallahu álaihiwasalam

الدُّعَاءُ هُوَ العِبَادَةُ


"Doa itu adalah ibadah" (H.R. Abu Dawud, At-Tirmizi, An-Nasai, dan Ibnu Majah - Shohih)

Dan Rosulullah salallahu álaihi wasalam bersabda:

"Dan tidak menolak al-qodar kecuali doa" (H.R. Ibnu Majah - Hasan)

Dan bukanlah yang dimaksud dengan doa bisa menolak takdir bahwa doa bisa melawan takdir Allah yang sudah Allah tulis. Akan tetapi makna al-qodar disini adalah al-muqodar yaitu sesuatu yang ditakdirkan. Artinya doa bisa menjadi sebab berubahnya keadaan yang ditakdirkan oleh Allah menjadi keadaan lain yang juga ditakdirkan oleh Allah. Contoh seseorang ditakdirkan sakit kemudian dia berdoa kepada Allah meminta kesembuhan kemudian Allah mengabulkan doanya dan menakdirkan kesembuhan bagi orang tersebut. Dan doa yang dipanjatkan oleh seseorang kepada Allah adalah bagian dari takdir Allah. Lalu bagaimana dikatakan bahwa doa bisa melawan takdir Allah ajawajal.

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqoh kali ini dan sampai bertemu kembali pada halaqah selanjutnya

Wasslamau álaikum warahmatullahi wabarakatuh

Monday, January 27, 2020

Halaqah 16 ~ Aliran Yang Menyimpang Di Dalam Masalah Irādah Syar'iyyah Dan Irādah Kauniyyah

📘 Silsilah Ilmiyyah Si.9 Beriman Kepada Takdir Allāh
🔊  Halaqah 16 ~ Aliran Yang Menyimpang Di Dalam Masalah Irādah Syar'iyyah Dan Irādah Kauniyyah
👤 Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A.

Assalamu álaikum warahmatullahi wabarakatuh
Alhamdulillah washolatu wasalamu ála rosulillah wa ála alihi wasohbihi ajmaín

Halaqah yang ke-16 dari silsilah ílmiah beriman dengan takdir Allah adalah tentang Aliran Yang Menyimpang Di Dalam Masalah Irādah Syar'iyyah Dan Irādah Kauniyyah

Aliran yang menyimpang di dalam masalah irodah syariyyah dan dan irodah kauniyyah adalah Al-Qodariyyah dan Al-Jabriyyah. Mereka tidak membedakan antara irodah syariyyah dan irodah kauniyyah. Mereka menganggap bahwa semua yang terjadi adalah dicintai oleh Allah.

Adapun Al-Qodariyyah maka mereka mengatakan bahwa setiap yang diinginkan oleh Allah pasti dicintai oleh Allah dan yang tidak Allah cintai dan ridhoi berarti terjadi tidak dengan keinginan Allah dan tidak diciptakan oleh Allah. Dan diantara yang tidak dicintai oleh Allah adalah kekafiran dan kemaksiatan. Dengan demikian kekafiran dan kemaksiatan tidak diciptakan oleh Allah karena Allah tidak mencintainya. Kemudian akhirnya mereka menyimpulkan bahwa seluruh amalan makhluq semuanya bukan dengan irodah dan penciptaan Allah tetapi dengan irodah makhluq tersebut tanpa campur tangan irodah Allah dan penciptaan Allah.

Adapun Al-Jabriyah maka mereka mengatakan bahwa semua yang terjadi adalah dengan irodah dan penciptaan Allah dan setiap yang diinginkan oleh Allah dan diciptakan pasti dicintai oleh Allah. Dan kekufuran dan kemaksiatan diciptakan oleh Allah berarti kekufuran dan kemaksiatan dicintai oleh Allah ajawajal.

Dengan demikian kita mengetahui bahwa orang-orang Al-Qodariyyah tersesat karena meyakini terjadinya sesuatu yang tidak diinginkan oleh Allah di dalam kerajaan Allah dan mereka benar ketika mengatakan bahwa Allah tidak mencintai kekafiran dan kemaksiatan. Dan kita mengatahui bahwa orang-orang Al-Jabriyah tersesat karena meyakini bahwa kekufuran dan kemaksiatan dincintai oleh Allah dan mereka benar ketika meyakini bahwa Allah yang mentakdirkan itu semua.

Adapun Ahlusunnah maka Allah memberikan petunjuk kepada mereka, mereka meyakini bahwa Allah mentakdirkan segala sesuatu termasuk kekafiran dan kemaksiatan dan Allah tidak mencintai kekafiran dan kemaksiatan.

Dari keterangan di atas diketahui bahwa subhat Al-Qodariyah dan Al-Jabriyah

1. Mereka tidak membedakan antara dua irodah Allah dan meyakini bahwa setiap yang diciptakan oleh Allah berarti dicintai oleh Allah  padahal tidak semua yang diciptakan Allah dicintai oleh Allah ajawajal.

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqoh kali ini dan sampai bertemu kembali pada halaqah selanjutnya

Wasslamau álaikum warahmatullahi wabarakatuh

Friday, January 24, 2020

Halaqah 15 ~ Beberapa Contoh Keadaan Yang Berkaitan Dengan Irādah Syar'iyyah Dan Irādah Kauniyyah

📘 Silsilah Ilmiyyah Si.9 Beriman Kepada Takdir Allāh
🔊  Halaqah 15 ~ Beberapa Contoh Keadaan Yang Berkaitan Dengan Irādah Syar'iyyah Dan Irādah Kauniyyah
👤 Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A.

Assalamu álaikum warahmatullahi wabarakatuh
Alhamdulillah washolatu wasalamu ála rosulillah wa ála alihi wasohbihi ajmaín

Halaqah yang ke-15 dari silsilah ílmiah beriman dengan takdir Allah adalah tentang Beberapa Contoh Keadaan Yang Berkaitan Dengan Irādah Syar'iyyah Dan Irādah Kauniyyah

1. Keimanan Abu Bakar

Keimanan Abu Bakar berkaitan dengannya dua irodah sekaligus, irodah syaríyah dan irodah kauniyah. Berkaitan dengannya irodah syariyah karena Allah mencintai dan menginginkan keimanan Abu Bakar dan berkaitan dengannya irodah kauniyah karena Allah mentakdirkan mewujudkan dan menciptakan keimanan Abu Bakar

2. Keimanan Abu Jahl

Keimanan Abu Jahl berkaitan dengannya irodah syariyah saja dan tidak berikaitan dengannya irodah kauniyah. Berkaitan dengannya irodah syaríyah karena Allah mencintai dan menginginkan keimanan Abu Jahl. Dan tidak berkaitan dengannya irodah kauniyah karena Allah tidak mentakdirkan mewujudkan dan menciptakan keimanan Abu Jahl.

3. Kemaksiatan orang yang berbuat maksiat 

Kemaksiatan orang yang berbuat maksiat, berkiatan dengannya irodah kauniyah saja dan tidak berkaitan dengannya irodah syariyah. Berkaitan dengannya irodah kauniyah karena Allah mentakdirkan mewujudkan dan menciptakan kemaksiatan tersebut dan tidak berkaitan dengannya irodah syariyah karena secara syareat Allah tidak mencintai dan menginginkan kemaksiatan tersebut

4. Kekufuran orang yang beriman yang tidak terjadi

Hal ini tidak berkaitan dengannya 2 irodah. Tidak berkaitan dengannya irodah syariyah karena secara syareat Allah tidak mencintai dan tidak menginginkan kekufuran orang yang beriman dan tidak berkaitan dengannya irodah kauniyah karena Allah tidak mentakdirkan kekufuran orang yang beriman dan tidak mewujudkannya serta tidak menciptakannya

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqoh kali ini dan sampai bertemu kembali pada halaqah selanjutnya

Wasslamau álaikum warahmatullahi wabarakatuh

Thursday, January 23, 2020

Halaqah 14 ~ Perbedaan Antara Irādah Kauniyyah Qadariyyah Dan Irādah Syar'iyyah Diniyyah

📘 Silsilah Ilmiyyah Si.9 Beriman Kepada Takdir Allāh
🔊  Halaqah 14 ~ Perbedaan Antara Irādah Kauniyyah Qadariyyah Dan Irādah Syar'iyyah Diniyyah
👤 Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A.

Assalamu álaikum warahmatullahi wabarakatuh
Alhamdulillah washolatu wasalamu ála rosulillah wa ála alihi wasohbihi ajmaín

Halaqah yang ke-14 dari silsilah ílmiah beriman dengan takdir Allah adalah tentang Perbedaan Antara Irādah Kauniyyah Qadariyyah Dan Irādah Syar'iyyah Diniyyah

Perbedaan antara irodah kauniyyah qodariyah dan irodah syariyyah diniyyah diantaranya:

1. Irodah kauniyah melajimkan terjadinya apa yang diinginkan oleh Allah, misalnya Allah menginginkan menciptakan matahari maka terciptalah matahari. Sedangkan irodah syariyyah maka tidak melajimkan terjadinya apa yang Allah inginkan, seperti secara syareat Allah menginginkan keislaman Abu Lahab tetapi hal tersebut tidak terjadi

2. Irodah kauniyyah tidak melajimkan apa yang Allah inginkan tersebut dicintai oleh Allah akan tetapi terkadang kejadiannya ada yang dicintai oleh Allah misal keimanan orang yang beriman dan terkadang ada yang kejadiannya tidak dicintai oleh Allah seperti kemaksiatan. Adapun irodah syariyah maka kejadiannya pasti sesuatu yang dicintai oleh Allah seperti keimanan orang yang beriman, ketaatan orang yang taat, dan lain-lain

3. Irodah kauniyah tidak melajimkan bahwa itu diperintah oleh Allah sedangkan irodah syariyah melajimkan bahwa hal tersebut diperintahkan oleh Allah artinya setiap yang diinginkan oleh Allah secara syareat berarti dia diperintahkan

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqoh kali ini dan sampai bertemu kembali pada halaqah selanjutnya

Wasslamau álaikum warahmatullahi wabarakatuh